Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Iklan Atas Judul

Cara Menulis Teks Laporan Observasi


A.  Pengertian Teks Laporan Hasil Observasi

Mengemukakan fakta-fakta yang diperoleh melalui pengamatan. Dengan teks tersebut, pembaca memperoleh sejumlah pengetahuan ataupun wawasan, bukan hasil imajinasi.

B.  Ciri-Ciri Laporan Hasil Observasi

laporan hasil observasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Menyajikan fakta-fakta tentang keadaan peristiwa, tempat, benda, atau orang. Misalnya, menggambarkan keadaan peristiwa dan keadaan tempat.
  2. Menambah pengetahuan dan wawasan kepada pembacanya.

C.  Langkah-Langkah Menulis Teks Laporan Observasi

Adapun langkah-langkah yang lebih sistematis adalah sebagai berikut.

1. Melakukan observasi atau pengamatan lapangan dengan kriteria objek menarik dan dikuasai. Topik observasi, misalnya tentang kegiatan karnaval.

2. Mendaftar topik-topik kecil yang dapat dikembangkan menjadi laporan.

Contoh:

a. Karnaval sebagai kegiatan rutin tahunan

b. Deretan peserta karnaval

c. Kegiatan peserta karnaval

d. Keadaan para penonton

e. Kegiatan lain di dalam karnaval

f. Manfaat karnaval Laporan Hasil Observasi 3. Menyusun kerangka laporan sesuai dengan sistematika umum sebuah teks laporan observasi yaitu defnisi umum, deskripsi per bagian, dan deskripsi manfaat.

Struktur Umum Rincian Topik Pengembangan

a. Defnisi umum

•Karnaval sebagai kegiatan rutin tahunan

b. Deskripsi per bagian • Deretan peserta karnaval

Kegiatan peserta karnaval

• Keadaan para penonton

• Kegiatan lain di dalam karnaval

c. Deskripsi manfaat • Manfaat karnaval

4. Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi suatu teks yang padu. Dalam tahap ini kita pun perlu memerhatikan kaidah-kaidah kebahasaan yang menjadi karakteristik dari teks laporan observasi. Dengan demikian, hasilnya benar-benar sesuai dengan kaidah-kaidahnya itu dan tidak berubah wujud menjadi teks jenis lainnya.

Contoh pengembangan teks:

Karnaval merupakan kegiatan rutin di kota kami. Kegiatan tersebut dilaksanakan setahun sekali di akhir tahun, menjelang perpisahan sekolah. Para pesertanya adalah utusan dari masing-masing sekolah. Mereka menyajikan berbagai atraksi dengan kostum yang bermacam-macam; kemudian berbaris membentuk kelompok masing-masing Rombongan ini terbagi menjadi beberapa kelompok. Paling depan, deretan siswi-siswi imut. Mereka asyik memainkan mayoret, melakukan koreograf menggunakan benderanya masing-masing. Kelompok mayoret ini diikuti dengan marching band, disusul dengan sejumlah pelajar yang menempeli tubuh mereka dengan papan yang bertuliskan hak-hak yang patut dituntut remaja. Rombongan diakhiri dengan sekelompok pelajar yang berbaris di dalam “selimut” berbentuk spanduk yang diisi petisi berupa tanda tangan pelajar dari sejumlah sekolah di Bandung. Mengasyikkan memang acara itu. Hampir semua peserta merasa senang, termasuk masyarakat yang berjubel menyaksikannya. Mereka semua terhibur. Selain itu, karnaval meningkatkan solidaritas dan kekompakan di antara pelajar, khususnya di Kota Bandung. Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti itu mereka semakin berprestasi dan terjauh pula dari berbagai tawuran dan kegiatan-kegiatan tidak produktif lainnya yang sering kali melanda kalangan remaja di kota-kota lainnya.(Kosasih, 2014:43-59)